Kalian pernah ga sih berpikir, dekat dengan seseorang yang sudah lama di kagumi. Tanpa interaksi secara langsung, tetapi mampu membuat kagum yang dalam. Rasanya seperti mimpi, seseorang yang selama ini membuat aku menyimpan rasa yang hampir tidak terlihat.

Kakak kelas yang beda dua tahun itu, membuat aku sangat mengaguminya. Entah dia yang pandai bermain basket, ataupun pandai dalam pelajaran. Rasanya tidak ada alasan untuk membuat jawaban mengenai dia yang aku kusukai. Badan yang tinggi, mata yang indah serta hidung yang tajam membuat aku selalu memujinya. Bukan hanya karena fisik, tetapi karna dia adalah Dia.

Tepat pada 9 Januari dimana itu adalah hari kelahiran ku. Tiba-tiba pesan dari Instagram masuk “Happy Birthday”, seseorang mengucapkan kepada ku. Dan dia adalah kakak kelas yang ku maksud. Rasa senang sekaligus bingung yang aku rasakan, pasalnya aku merasa aneh karena tiba-tiba dia mengucapkan ulang tahun sedangkan kita tidak pernah berkomunikasi. Tetapi rasa senang lebih besar karena aku tidak menyangka akan diucapkan oleh dia.

Setelah itu pesan kami hanya sampai disitu, dia hanya membaca pesan terakhir ku. Kemudian tanggal 6 April dia berulang tahun, aku sangat senang karena merasa ada kesempatan untuk mengirimkan dia pesan. Setelah memberi ucapan ulang tahun, aku tidak berharap banyak hanya saja semoga dia membaca pesan ku. Tidak lama kemudian dia membalas, dan aku hanya mengatakan iya walaupun agak sedih karena aku berpikir pesan ku dan dia hanya sampai disitu. Ternyata tanpa disangka dia menanyakan kabar sekolah, ya… tidak apa-apa walaupun hanya itu setidaknya aku bisa saling mengirim pesan.

Setelah itu aku dan dia mulai akrab karena kita mempunyai hobby yang sama, yaitu menonton film dan membaca buku. Aku sangat senang sekali rasanya seperti dia akan menjadi milik ku walaupun itu terdengar mustahil. Kemudian perasaan ku mulai tumbuh dan anehnya kita hanya sekedar saling mengirim pesan tanpa adanya pertemuan. Sangat sulit, dikarenakan dia sedang berkuliah di Malang.

Rasanya sangat sedih ketika dia hanya membaca pesan ku tanpa adanya niat untuk membalas, ya… walaupun aku tidak punya hak untuk marah. Tidak lama aku memutuskan untuk menonaktifkan Instagram supaya tidak terlalu berharap dengan dia. Beberapa hari kemudian dia mengirim kan pesan di Tiktok, aku merasa seperti mimpi dan mengatakan dalam hati “ah mungkin dia salkir” tetapi ternyata dugaan ku salah, dia mencari ku dan menanyakan kenapa aku menonaktifkan Instagram.

Tidak lama setelah itu, akhirnya dia meminta nomor ku untuk mengirim pesan di WhatsApp saja. Tanpa berpikir panjang, aku memberi nomor WhatsApp ku dan kemudian masuk pesan “permisi paket” aku tertawa dan mengatakan dia sangat lucu. Hari demi hari kita saling mengirim pesan, perasaan senang dan bahagia membuat aku semangat untuk menjalani hari. Sampai dimana dia mengajak ku Video Call. Bayangkan rasanya seperti mimpi…. dan aku mulai merasa bahwa dia menyukai ku juga. Dikarenakan sikapnya yang seolah-olah ingin aku menjadi miliknya.

Tidak terasa memasuki bulan kedua aku dan dia semakin dekat, kami selalu videocall, telfon, bahkan mengirim foto untuk satu sama lain dan membuat wishlist bersama. Sampai dimana memasuki awal bulan ketiga, dia sudah mulai berubah. Pesan yang sangat lambat dibalas tanpa alasan yang jelas, dan titik puncaknya adalah tidak ada hujan dan angin dia berhenti mengirimi ku pesan. Sampai akhirnya aku bertanya, dan meminta penjelasan tetapi hasilnya nihil. Rasanya harapan yang selama ini ditunggu tidak mendapatkan hasil yang jelas .

Disitu aku mulai merasa sedih, dan bertanya-tanya sebenarnya dia kenapa. Sampai akhirnya beberapa hari kemudian dia mengirimi ku pesan kembali, tetapi tidak memberitahu alasan kemarin kenapa mendiami pesanku. Tidak ingin mengambil pusing aku merespon dia sesuai apa yang dia lakukan juga. Tetapi setelah itu dia menghilang lagi, aku betul-betul semakin dibuat bingung sebenarnya dia kenapa.

Sampai di suatu titik aku memberanikan diri untuk memberitahu perasaan ku yang sebenarnya, agar tidak membuat diriku bingung lagi. Ternyata ekspektasi memang tidak selalu indah seperti realita, buktinya setelah mengetik panjang lebar dan semua ego ku, aku turunkan. Dia hanya membalas “aku bingung harus gimana” setelah mendapatkan jawaban seperti itu. Aku sadar bahwa selama ini aku bukan orang yang dia inginkan, dan selama ini juga dia hanya menganggap ku sebagai orang asing yang tiba-tiba dia kenal.